Rabu, 05 Desember 2018

Pendidikan Transformatif


Dalam laporan UNESCO yang berjudul “Learning to Be: The World of Education Today Tomorrow, Edgar Faure,dkk menyebutkan tujuan pendidikan yaitu menuju masyarakat ilmiah, membentuk kreativitas, menuju komitmen sosial dan terakhir membentuk manusia seutuhnya. Dalam laporan tersebut dijelaskan bahwa tujuan dari pengembangan manusia adalah tercapainya perkembangan yang semaksimal dan seutuhnya dalam kepribadian, seluruh bentuk ekspresi dan komitmennya baik sebagai pribadi maupun sebagai masyarakat. Karena itu, baik anak-anak maupun kelompok usia muda harus mendapat kesempatan untuk mengembangkan semua bakat-bakat yang tersembunyi dalam dirinya. Disekolah hal ini berarti bahwa siswa dan mahasiswa harus diberi kesempatan untuk mengalami seni dan budaya kontemporer dan budaya seni generasi sebelumnya. Pendidikan adalah alat (utility) yang dapat digunakan untuk mengubah (transform) dunia, masyarakat, bangsa dan negara menjadi lebih baik. Dunia dan masyarakat yang dipenuhi dengan kedamaian, kasih sayang antar sesama manusia, saling menghargai dan saling menghormati. Karena pendidikan adalah alat maka alat ini harus dipegang oleh orang-orang baik dan memahami seluk beluk tentang pendidikan agar mencapai tujuan yang diinginkan. Pendidikan tidak hanya sebagai proses pemindahan/transfer pengetahuan atau keterampilan tetapi juga pendidikan merupakan proses internalisasi nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, kebaikan, kekuatan budaya bangsa. Pendidikan harus berorientasi pada proses bukan terhadap hasil yang dicapai peserta didik.
Konsep Ivan Illich yaitu Deschooling Society muncul sebagai kritik terhadap kondisi persekolahan saat itu yang cenderung kaku, ketat, tidak menghargai keunikan individu dan mematikan kreativitas anak. Menurut penulis konsep tersebut tepat namun harus disesuaikan dengan konteks pendidikan saat ini. Sekolah diharapkan dapat menyusun kurikulum yang fleksibel dan menghargai keunikan individu. Kurikulum dalam pendidikan transformative disusun bersama-sama antara masyarakat, sekolah dan peserta didik itu sendiri. Kurikulum harus kontekstual artinya setiap materi dan keterampilan yang diajarkan harus menyesuaikan dengan konteks local dimana peserta didik hidup dan berkembang. Kurikulum juga bersifat transformative artinya sesuai dengan perkembangan pada saat itu namun tidak meninggalkan sejarah dan budaya masa lalu, kurikulum yang disusun menyesuaikan dengan tumbuh kembang peserta didik.
Paulo Freire, seorang ahli pendidikan progresif dari Amerika Latin melalui bukunya Pedagogy of the Oppressed menyatakan bahwa pendidikan merupakan bahasa kritik tehadap hegemoni kekuasaan yang menindas massa rakyat. Pendidikan adalah politik mengandung makna bahwa semua aktivitas pendidikan diarahkan kepada politik mulai dri cara guru mengajar, materi pembelajaran dan hubungan apa yang akan dibangun. Politik disini artinya adalah pembebasan terhadap praktik pembelajaran konvensional yang menjadikan anak sebagai objek pendidikan. Freire menyebutnya dengan pendidikan “gaya bank” artinya model pendidikan yang menempatkan anak sebagai deposit pengetahuan, guru memberikan materi tanpa ada interaksi dengan siswa apakah memang membutuhkan materi tersebut. Untuk menjawab permasalahan ini, maka dalam pendidikan transformative digunakan metode pembelajaran yang variatif. Metode pembelajaran dalam pendidikan transformative berorientasi kepada proses artinya setiap pembelajaran memberi kesempatan kepada peserta didik untuk terlibat aktif didalamnya. Beberapa metode mengajar yang dapat digunakan antara lain pembelajaran berbasis masalah, pembelajaran inkuiri, eksperimentasi, studi banding,dll.
Peran guru sangat penting dan tidak tergantikan dalam pendidikan transformative. Peran guru yang paling penting adalah sebagai pembimbing, pendamping dan fasilitator peserta didik selama proses pembelajaran. Guru menciptakan suasana belajar yang menantang dan menyenangkan. Peran guru seperti yang dikatakan oleh Ki Hadjar Dewantara, di depan sebagai teladan, di tengah memberi ide atau prakarsa dan dari belakang memberi dorongan atau semangat.
Peran peserta didik dalam pendidikan juga sangat penting. Dia menjadi subjek dalam proses pembelajaran. Peserta didik harus kreatif, inovatif, rajin membaca dan pantang menyerah.
Masyarakat dalam hal ini bisa orang tua dan warga yang peduli terhadap pendidikan. Perannya juga sangat penting dalam pendidikan transformative sebagai pendukung dalam pelaksanaan pendidikan, masyarakat memberikan sumber daya baik materiil maupun spiritual kepada guru dan siswa guna mewujudkan pendidikan yang berkualitas.
Fenomenologi pendidikan memberi ruang telaah dan metode dalam praktek pendidikan baik oleh guru, masyarakat dan pemerintah. Seperti kita ketahui bersama, berbagai macam permasalahan dan tantangan pendidikan datang silih berganti terhadap pendidikan nasional kita. Permasalahan pendidikan pada  tingkat mikro antara lain praktik pendidikan yang masih berpusat kepada guru, guru yang tidak kreatif dan variatif dalam menggunakan metode pembelajaran ,peserta didik masih pasif dan kurang kreatif, hasil evaluasi pendidikan yang masih jauh dari standar yang diterapkan. Pada tingkat meso seperti manajemen sekolah yang masih belum professional, sekolah belum menjadi tempat yang menyenangkan bagi peserta didik sedangkan pada tingkat makro yaitu kualitas pendidikan yang belum merata, antara pusat dan daerah, jawa dan luar jawa, dan yang paling penting adalah akses pendidikan yang belum merata diseluruh wilayah Indonesia.
Untuk menuju kesana, maka pendidikan di Indonesia harus disesuaikan dengan konteks saat ini. Pendidikan tumbuh dan berkembang dalam masyarakat kekinian. Alvin Toffler dengan konsepnya tentang gelombang ketiga peradaban manusia. Menurut Alvin Toffler, tiga gelombang peradaban manusia:
  1. Gelombang pertama (800 SM-1500 M) adalah gelombang pembaruan dimana manusia menemukan dan menerapkan teknologi pertanian yaitu manusia berubah dari kebiasaan berpindah-pindah yang menetap disatu tempat. Ciri masa ini adalah penggunaan “baterai alamiah” yang dapat menyimpan energi yang dapat diperbaharui.
  2. Gelombang kedua (1500 M-1970 M) adalah masyarakat industri, sebagai “manusia ekonomis” yang rakus yang baru lahir dari Renaissance (pencerahan di Eropa. Adapun ciri-ciri masyarakat pada gelombang kedua ini antara lain Imprialisme dan kolonialisme di gelombang kedua ini, Gelombang kedua ini berbudaya produk massa, pendidikan massa, komunikasi massa dan media mass, Budaya Iptek tumbuh dengan pesat, dan Terjadi urbanisasi dan pembangunan kota besar, penggunaan energi yang tidak dapat diperbaharui dan polusi yang menyebabkan kerusakan lingkungan.
  3. Gelombang ketiga (1970-2000 M) adalah masyarakat informasi dengan ciri-ciri :Kelangkaan bahan bakar fosil ; kembali ke energi yang dapat diperbaharui, proses produksi yang cenderung menjadi produksi masal yang terkonsentrasi, terjadinya deurbanisasi dan globalisasi karena kemajuan teknologi komunikasi dan informasi., Peradaban gelombang ketiga merupakan Sintesa dari gelombang pertama (tesa) dan gelombang kedua (antitesa).
Dalam gelombang ketiga yg disebut sebagai Knowledge Age, dengan digunakannya satelit telekomunikasi, kabel optik dalam jaringan internet, masyarakat mampu berkomunikasi secara online. Menurut Toffler masyarakat pada gelombang ketiga ini akan mengalami apa yang dia sebut “Culture Shock” yaitu suatu keadaan dimana masyarakat mengalami keterkejutan budaya. Hal ini akan banyak terjadi pada warga negara dunia ketiga artinya negera berkembang dan terbelakang. Untuk mengatasi masalah “Culture Shock” ini maka dibutuhkan pendidikan tranformatif yaitu model pendidikan yang mampu meredam gejolak keterkejutan budaya pada masyarakat dunia ketiga. Pendidikan tranformatif akan membantu masyarakat menyesuaikan diri dengan perubahan yang begitu cepat. Transformasi pendidikan memberi ruang dialog dalam aktivitas pendidikan baik di sekolah maupun masyarakat.
Aliran pendidikan transformative diperlukan untuk menjawab berbagai permasalahan pendidikan dewasa ini. Seperti yang sudah dijelaskan pada konsep, tujuan serta kurikulum pendidikan ini bisa menjadi alternative solusi permasalahan diatas. Pendidikan transformative berusaha berpikir jauh ke depan namun tidak meninggalkan nilai-nilai luhur budaya bangsa. Peserta didik sebagai subjek pendidikan karena yang menentukan nasib bangsa ini dimasa depan adalah peserta didik yang dididik saat ini dengan system pendidikan yang ada. Pendidikan transformative menjadikan anak kreatif dan produkdif. Ke depan bangsa Indonesia dengan segala potensi baik sumber daya alam dan sumber daya manusianya tidak lagi menjadi pasar namun menjadi bangsa yang bermartabat, berdaya saing dan disegani bangsa-bangsa lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar