Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Desember 2019

Masalah Pendidikan Hari ini


Mengutip pendapat Mochtar Buchori, seorang begawan pendidikan Indonesia menyatakan bahwa permasalahan pendidikan di Indonesia dapat dilihat dari dua arah yaitu pada sisi hulu dan sisi hilirnya. Dari sisi hulu berkaitan dengan filsafat, konsep, dan dasar pendidikan yang digunakan dalam system pendidikan di Indonesia sedangkan sisi hilirnya berkaitan dengan praktik-praktik pembelajaran yang dilaksanakan disekolah dan bagaimana penyiapan guru sebagai ujung tombak peningkatan kualitas pendidikan. Dari keterangan ini, saya akan coba menjelaskan beberapa permasalahan mendasar pendidikan di Indonesia saat ini. Permasalahan pertama yaitu pada tingkat hulunya yaitu belum adanya kesepakatan atau consensus dalam diri bangsa Indonesia mengenai dasar dari pendidikan nasional kita. Meskipun kita memiliki filsafat pendidikan Pancasila namun hal ini seolah menjadi “lip service” semata. Tidak diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Sampai saat ini kita masih cenderung “meminjam” konsep dan filosofi pendidikan dari “luar”. Seperti kita ketahui , Indonesia memiliki tokoh-tokoh pendidikan yang tidak diragukan lagi perjuangan, kemampuan dan kredibilitasnya seperti Ki Hadjar Dewantara, Muhammad Syafei, Driyarkara, KH. Ahmad Dahlan, dll. Kalau kita memiliki tokoh-tokoh di atas dengan pemikiran-pemikirannya yang cemerlang lalu mengapa kita masih “meminjam” konsep dan pemikiran “orang luar”? sepertinya ada rasa kurang percaya diri dalam diri bangsa Indonesia terhadap nilai-nilai dan filosofi pendidikan yang dimilikinya. Begitu banyak hasil penelitian baik tesis maupun disertasi yang membahas kiprah, perjuangan dan pemikiran tokoh-tokkoh pendidikan kita diatas dengan kesimpulan yang mengatakan bahwa pemikiran tokoh-tokoh tersebut sangat pas dan relevan digunakan dan diterapkan dalam situasi dan kondisi pendidikan Indonesia yang masih jauh tertinggal dengan bangsa lainnya. Kita harus kembali ke nilai-nilai dan filosofi yang menjadi karakter dan ciri khas bangsa Indonesia. Filsafat pendidikan Pancasila merupakan jawaban atas permaslahan yang telah saya sampaikan diatas. Filsafat Pancasila dipadukan dengan pemikiran tokoh-tokoh diatas akan menjadi suatu kekuatan yang mampu menjawab permasalahan dan tantangan pendidikan Indonesia ke depan.
Permasalahan krusial selanjutnya dalam pendidikan di Indonesia adalah rendahnya kualitas guru. Sebagaimana yang diketahui, guru merupakan ujung tombak dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia. Sehebat apapun kurikulum maupun sarana dan prasarana yang dipersiapkan namun jika kualitas guru masih mengkhawatrikan maka usaha tersebut akan sia-sia. Fokus pada kualitas guru merupakan suatu keniscayaan dalam usaha meningkatkan kualitas pendidikan. Tilaar (2015: 137) mengemukakan empat upaya strategis dalam meningkatkan kualitas guru: 1) Profesi guru sebagai profesi yang professional, 2) Reformasi LPTK, 3) Pembenahan jalur karier guru, dan 4) Jaminan sosial gaji guru yang menjanjikan.
Keempat usaha tersebut seperti masih jauh dari harapan. Profesi guru masih dianggap profesi terbuka oleh sebagian masyarakat sehingga menjadi guru adalah pilihan terakhir. Begitupun juga dengan jaminan sosial guru. Masih banyak guru terutama guru honorer yang memiliki penghasilan jauh dibawah UMR. Semua permasalahan diatas semakin menambah runyam permasalahan peningkatan kualitas pendidikan Indonesia.
Langkah solutif untuk meningkatkan kualitas guru adalah membenahi permasalahan yang terjadi pada “pabrik”nya guru yaitu reformasi LPTK. LPTK harus bertransformasi menjadi lembaga modern dan professional sehingga menghasilkan guru-guru yang memiliki kualitas terbaik. Selanjutnya pembenahan jenjang karir guru menjadi upaya terkahir agar profesi guru menjadi pilihan utama masyarakata karena sudah memiliki masa depan yang jelas.

Rabu, 05 Desember 2018

Pendidikan Transformatif


Dalam laporan UNESCO yang berjudul “Learning to Be: The World of Education Today Tomorrow, Edgar Faure,dkk menyebutkan tujuan pendidikan yaitu menuju masyarakat ilmiah, membentuk kreativitas, menuju komitmen sosial dan terakhir membentuk manusia seutuhnya. Dalam laporan tersebut dijelaskan bahwa tujuan dari pengembangan manusia adalah tercapainya perkembangan yang semaksimal dan seutuhnya dalam kepribadian, seluruh bentuk ekspresi dan komitmennya baik sebagai pribadi maupun sebagai masyarakat. Karena itu, baik anak-anak maupun kelompok usia muda harus mendapat kesempatan untuk mengembangkan semua bakat-bakat yang tersembunyi dalam dirinya. Disekolah hal ini berarti bahwa siswa dan mahasiswa harus diberi kesempatan untuk mengalami seni dan budaya kontemporer dan budaya seni generasi sebelumnya. Pendidikan adalah alat (utility) yang dapat digunakan untuk mengubah (transform) dunia, masyarakat, bangsa dan negara menjadi lebih baik. Dunia dan masyarakat yang dipenuhi dengan kedamaian, kasih sayang antar sesama manusia, saling menghargai dan saling menghormati. Karena pendidikan adalah alat maka alat ini harus dipegang oleh orang-orang baik dan memahami seluk beluk tentang pendidikan agar mencapai tujuan yang diinginkan. Pendidikan tidak hanya sebagai proses pemindahan/transfer pengetahuan atau keterampilan tetapi juga pendidikan merupakan proses internalisasi nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, kebaikan, kekuatan budaya bangsa. Pendidikan harus berorientasi pada proses bukan terhadap hasil yang dicapai peserta didik.
Konsep Ivan Illich yaitu Deschooling Society muncul sebagai kritik terhadap kondisi persekolahan saat itu yang cenderung kaku, ketat, tidak menghargai keunikan individu dan mematikan kreativitas anak. Menurut penulis konsep tersebut tepat namun harus disesuaikan dengan konteks pendidikan saat ini. Sekolah diharapkan dapat menyusun kurikulum yang fleksibel dan menghargai keunikan individu. Kurikulum dalam pendidikan transformative disusun bersama-sama antara masyarakat, sekolah dan peserta didik itu sendiri. Kurikulum harus kontekstual artinya setiap materi dan keterampilan yang diajarkan harus menyesuaikan dengan konteks local dimana peserta didik hidup dan berkembang. Kurikulum juga bersifat transformative artinya sesuai dengan perkembangan pada saat itu namun tidak meninggalkan sejarah dan budaya masa lalu, kurikulum yang disusun menyesuaikan dengan tumbuh kembang peserta didik.
Paulo Freire, seorang ahli pendidikan progresif dari Amerika Latin melalui bukunya Pedagogy of the Oppressed menyatakan bahwa pendidikan merupakan bahasa kritik tehadap hegemoni kekuasaan yang menindas massa rakyat. Pendidikan adalah politik mengandung makna bahwa semua aktivitas pendidikan diarahkan kepada politik mulai dri cara guru mengajar, materi pembelajaran dan hubungan apa yang akan dibangun. Politik disini artinya adalah pembebasan terhadap praktik pembelajaran konvensional yang menjadikan anak sebagai objek pendidikan. Freire menyebutnya dengan pendidikan “gaya bank” artinya model pendidikan yang menempatkan anak sebagai deposit pengetahuan, guru memberikan materi tanpa ada interaksi dengan siswa apakah memang membutuhkan materi tersebut. Untuk menjawab permasalahan ini, maka dalam pendidikan transformative digunakan metode pembelajaran yang variatif. Metode pembelajaran dalam pendidikan transformative berorientasi kepada proses artinya setiap pembelajaran memberi kesempatan kepada peserta didik untuk terlibat aktif didalamnya. Beberapa metode mengajar yang dapat digunakan antara lain pembelajaran berbasis masalah, pembelajaran inkuiri, eksperimentasi, studi banding,dll.
Peran guru sangat penting dan tidak tergantikan dalam pendidikan transformative. Peran guru yang paling penting adalah sebagai pembimbing, pendamping dan fasilitator peserta didik selama proses pembelajaran. Guru menciptakan suasana belajar yang menantang dan menyenangkan. Peran guru seperti yang dikatakan oleh Ki Hadjar Dewantara, di depan sebagai teladan, di tengah memberi ide atau prakarsa dan dari belakang memberi dorongan atau semangat.
Peran peserta didik dalam pendidikan juga sangat penting. Dia menjadi subjek dalam proses pembelajaran. Peserta didik harus kreatif, inovatif, rajin membaca dan pantang menyerah.
Masyarakat dalam hal ini bisa orang tua dan warga yang peduli terhadap pendidikan. Perannya juga sangat penting dalam pendidikan transformative sebagai pendukung dalam pelaksanaan pendidikan, masyarakat memberikan sumber daya baik materiil maupun spiritual kepada guru dan siswa guna mewujudkan pendidikan yang berkualitas.
Fenomenologi pendidikan memberi ruang telaah dan metode dalam praktek pendidikan baik oleh guru, masyarakat dan pemerintah. Seperti kita ketahui bersama, berbagai macam permasalahan dan tantangan pendidikan datang silih berganti terhadap pendidikan nasional kita. Permasalahan pendidikan pada  tingkat mikro antara lain praktik pendidikan yang masih berpusat kepada guru, guru yang tidak kreatif dan variatif dalam menggunakan metode pembelajaran ,peserta didik masih pasif dan kurang kreatif, hasil evaluasi pendidikan yang masih jauh dari standar yang diterapkan. Pada tingkat meso seperti manajemen sekolah yang masih belum professional, sekolah belum menjadi tempat yang menyenangkan bagi peserta didik sedangkan pada tingkat makro yaitu kualitas pendidikan yang belum merata, antara pusat dan daerah, jawa dan luar jawa, dan yang paling penting adalah akses pendidikan yang belum merata diseluruh wilayah Indonesia.
Untuk menuju kesana, maka pendidikan di Indonesia harus disesuaikan dengan konteks saat ini. Pendidikan tumbuh dan berkembang dalam masyarakat kekinian. Alvin Toffler dengan konsepnya tentang gelombang ketiga peradaban manusia. Menurut Alvin Toffler, tiga gelombang peradaban manusia:
  1. Gelombang pertama (800 SM-1500 M) adalah gelombang pembaruan dimana manusia menemukan dan menerapkan teknologi pertanian yaitu manusia berubah dari kebiasaan berpindah-pindah yang menetap disatu tempat. Ciri masa ini adalah penggunaan “baterai alamiah” yang dapat menyimpan energi yang dapat diperbaharui.
  2. Gelombang kedua (1500 M-1970 M) adalah masyarakat industri, sebagai “manusia ekonomis” yang rakus yang baru lahir dari Renaissance (pencerahan di Eropa. Adapun ciri-ciri masyarakat pada gelombang kedua ini antara lain Imprialisme dan kolonialisme di gelombang kedua ini, Gelombang kedua ini berbudaya produk massa, pendidikan massa, komunikasi massa dan media mass, Budaya Iptek tumbuh dengan pesat, dan Terjadi urbanisasi dan pembangunan kota besar, penggunaan energi yang tidak dapat diperbaharui dan polusi yang menyebabkan kerusakan lingkungan.
  3. Gelombang ketiga (1970-2000 M) adalah masyarakat informasi dengan ciri-ciri :Kelangkaan bahan bakar fosil ; kembali ke energi yang dapat diperbaharui, proses produksi yang cenderung menjadi produksi masal yang terkonsentrasi, terjadinya deurbanisasi dan globalisasi karena kemajuan teknologi komunikasi dan informasi., Peradaban gelombang ketiga merupakan Sintesa dari gelombang pertama (tesa) dan gelombang kedua (antitesa).
Dalam gelombang ketiga yg disebut sebagai Knowledge Age, dengan digunakannya satelit telekomunikasi, kabel optik dalam jaringan internet, masyarakat mampu berkomunikasi secara online. Menurut Toffler masyarakat pada gelombang ketiga ini akan mengalami apa yang dia sebut “Culture Shock” yaitu suatu keadaan dimana masyarakat mengalami keterkejutan budaya. Hal ini akan banyak terjadi pada warga negara dunia ketiga artinya negera berkembang dan terbelakang. Untuk mengatasi masalah “Culture Shock” ini maka dibutuhkan pendidikan tranformatif yaitu model pendidikan yang mampu meredam gejolak keterkejutan budaya pada masyarakat dunia ketiga. Pendidikan tranformatif akan membantu masyarakat menyesuaikan diri dengan perubahan yang begitu cepat. Transformasi pendidikan memberi ruang dialog dalam aktivitas pendidikan baik di sekolah maupun masyarakat.
Aliran pendidikan transformative diperlukan untuk menjawab berbagai permasalahan pendidikan dewasa ini. Seperti yang sudah dijelaskan pada konsep, tujuan serta kurikulum pendidikan ini bisa menjadi alternative solusi permasalahan diatas. Pendidikan transformative berusaha berpikir jauh ke depan namun tidak meninggalkan nilai-nilai luhur budaya bangsa. Peserta didik sebagai subjek pendidikan karena yang menentukan nasib bangsa ini dimasa depan adalah peserta didik yang dididik saat ini dengan system pendidikan yang ada. Pendidikan transformative menjadikan anak kreatif dan produkdif. Ke depan bangsa Indonesia dengan segala potensi baik sumber daya alam dan sumber daya manusianya tidak lagi menjadi pasar namun menjadi bangsa yang bermartabat, berdaya saing dan disegani bangsa-bangsa lain.

Minggu, 28 April 2013

MENGUBAH PARADIGMA PENDIDIKAN DASAR

Jika kita ibaratkan sistem pendidikan dengan sebuah rumah, maka pendidikan dasar merupakan pondasi bagi sistem pendidikan kita. Jika ingin membangun rumah yang kokoh dan dan mampu bertahan lama maka pondasi yang kokoh merupakan suatu keniscayaan. Begitu pula dengan pendidikan, jika ingin mendapatkan sistem pendidikan yang kuat dan mampu bertahan dalam menjawab tantangan ke depan maka perbaikan atau saya lebih suka menyebut perubahan paradigma terhadap pendidikan dasar merupakan suatu hal yang sangat mendesak. Perubahan paradigma yang dimaksud adalah segala macam kekeliruan-kekeliruan baik secara konsep maupun praktik terhadap pendidikan dasar. Secara konsep kesalahan mulai dari mendefinisikan pendidikan dasar, kesalahan dalam melihat peserta didik secara menyeluruh dan guru yang mengajar di pendidikan dasar. Dari segi praktik, dapat dilihat dari metode pengajaran yang berpusat pada guru, tidak ada inovasi-inovasi dalam proses pembelajaran, kesalahan lainnya dalam tata kelola pendidikan dasar mulai dari manajemen sekolah, guru dan peserta didik. Selanjutnya mengapa hal ini mendesak? Banyak alasan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Sebut saja yang umum kita lihat dimasyarakat bahwa pendidikan kita jauh tertinggal, dengan malaysia saja yang dulu meminta guru dari indonesia sekarang sudah jauh lebih baik. Ini dibuktikan dengan IPM malaysia lebih baik dari Indonesia. Secara khusus dapat dijawab dengan makin besarnya tantangan ke depan yang akan dihadapi oleh bangsa ini, pendidikan yang merupakan pilar untuk mencerdasakan kehidupan bangsa saat ini jauh panggang dari api. Pendidikan dasar yang merupakan akar dari pendidikan kita harus di ubah cara pandangnya. Pendidikan dasar harus menjadi perhatian semua pihak. Anggapan saya adalah jika pendidikan dasar sudah berkualitas maka dengan sendirinya permasalahan pendidikan diatasnya seperti pendidikan menengah dan pendidikan tinggi akan lebih muda untuk diselesaikan. Pendidikan dasar sejatinya adalah ruang bagi peserta didik untuk bermain, belajar menemukan dan mengembangkan potensi-potensi yang dimilikinya. Teori konstruktivis menyatakan bahwa peserta didik sudah memiliki pengetahuan awal tinggal bagaimana pengetahun-pengetahuan yang masih mentah itu dimatangkan oleh guru. Lebih tepatnya guru sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran. Dalam hal ini, yang menjadi fokus perubahan paradigma adalah proses belajarnya. Kita, siapapun, jangan pernah mengagggap peserta didik adalah mereka yang tidak tahu apa-apa, kita sebagai guru jangan bersikap paling pintar dan menjadi sumber pengetahuanm, ini kritik kepada guru-guru yang masih menggunakan cara mengajar seperti itu. Vygotsky dan Bruner lewat zone of proximal development-nya dan scafolding menyatakan bahwa peserta didik membutuhkan orang-orang disekitarnya untuk mengembangkan pengetahuannya. Lebih tepatnya menjembatani peserta didik dalam mencari dan menemukan solusi pada permasalahan yang dihadapi. Biarkan peserta didik berkreasi dan berpikir sendiri terlebih dahulu lalu kemudian menemukan. Walaupun hal ini sepertinya sulit namun inilah awal untuk ke depan yang lebih baik.

Minggu, 13 November 2011

SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL : JAUH PANGGANG DARI API

JANGAN pernah berpikir bahwa sistem pendidikan yang telah dan sedang kita jalani adalah suatu bentuk pendidikan yang mencerdaskan atau pendidikan yang mencerahkan. Adalah suatu hal yang nyata kualitas pendidikan di negeri ini sudah sangat jauh tertinggal dari negara tetangga semisal Malaysia atau Sungapura. Malaysia yang dahulu pernah mendatangkan guru-guru dari indonesia kini sudah begitu majunya dalah hal dunia pendidikan dibandingkan dengan negara kita. Ibarat kata, murid sudah berlari sedang gurunya masih tetap diam di tempat. Dalam pengantar diskusi ini akan saya ketengahkan beberapa masalah pendidikan kekinian yang mudah-mudahan dalam diksusi ini akan ada beberapa rekomendasi atau solusi dari masalah-masalah ini. Kondisi dan Permaslaahan Pendidikan Kontemporer (masa kini) 1. Kapitalisasi pendidikan Kapitalisasi pendidikan melihat bahwa bidang pendidikan merupkan bagian yang harus bertumpu pada bidang ekonomi, dimana pendidikan hanya direduksi sebatas pendidikan yang ekonomistik dengan oreantasi kebutuhan pasar tenaga kerja. Kapitalisasi pendidikan merupakan wahana menjaga ekonomi kapitalistik yang menindas dan ekskploitatif tetap terjaga. Kapitalisasi pendidikan menjadi fenomena manakala menyaksikan bagaiamana IMF mendesak bangsa bangsa dunia ke-3 melakukan privatisasi pendidikan dengan menyerahkan sektor pendidikan kepada swasta. Menjadi keniscayaan kemudian manakala peran swasta sudah merambah bidang pendidikan mau tidak mau pendidikan menjadi bahan investasi dan rebutan ekonomi dengan perhitungan untung rugi. Fenomena ekonomi pendanaan kampus dengan BHMN mengakibatnya tinggi biaya pendidikan atau maraknya kursus dan pendidika- pendidikan sesuai dengan lowongan kerja dan pasar serta rendahnya anggran pendidikan negara kita semakin terpuruk saja. Bagaimana survai internasional menunjukkan bahwa pendidikan kita sangat jauh tertinggal dibanding negara-negara berkembang lainnya. 2. Komoditifikasi pendidikan Komoditifikasi merupakan salah satu imbas ketika bidang pendidikan menjadi logika ekonomi. Logika ekonomi yang bertumpu pada modal dengan tiga bentuk aksi akumulasi, eksploitasi dan ekspansi. Dasar asumsi dan filsafat kapitalisme yang menitikberatkan pada individualisme dan modal menjadikan peran negara hanya sebatas regulator (Pengaturan) dengan perhitungan untung rugi bukan lagi pada apakah fungsi pendidikan tercapai atau tidak. Komoditifikasi pendidikan merupakan turunan langsung dari kapitalisasi pendidikan. Dimana institusi dan lembaga pendidikan direduksi menjadi komoditas yang bisa diperdagangkan dan mencari keuntungan. Pendidikan dihitung dengan seberapa besar keuntungan yang didapatkan ketika melakukan investasi pendidikan dengan mendukung metode pengajaran gaya bank seperti yang dijelaskan diatas. 3. Disvariantas antara lulusan dan pertumbuhan apangan kerja. Maksudnya adalah ketidaksamaan pertumbuhan antara lulusan pendidikan dengan lapangan pekerjaan yang ada. Saat ini ada sekitar jutaan lulusan perguruan tinggi yang tidak mampu diserap oleh dunia kerja. Mereka-mereak ini disebut pengangguran intelektual. 4. Disvaritas/ Diskriminasi desa Kota, Jawa dan Luar Jawa. MaksudnyaPerkembangan secara kualitas dan kuantitas pendidikan baik itu dari segi skill, SDM, dan fasilitas pembangunan dan potensinya tidak merata antara sekolah-sekolah atau pendidikan di tingkat pulau jawa dan diluar jawa. Atau antara kota dan desa. 5. Ideologisasi pendidikan bagi legitimasi negara/ Kekuasaan. Maksudnya bagaimana pendidikan secara materi dan kurikulum hanya digunakan sebagai lembaga yang mendidik dan mendogma masyarakatnya supaya mensahkan (melegalkan) dan memperkuat negara/ kekuasaan yang ada pada negara.Apa yang dilakukan kekuasaan hari ini adalah benar, jadi apapun tindakan yang dilakukan oleh negara harus didukung.Kondisi inilah yang membuktikan negara kita dikuasa oleh kaum tirani yang otoritar Soeharto selama 32 tahun dibawah rezim orde baru yang menindas. Pada orde ini tidak ada masyarakat yang mampu melawan dan membatah kekuasaan yang otoriter ini. Karena dari masyarakat sudah terbius dengan ideologisasi, dogma-dogma yang dilakukan negara lewat pendidikan. 6. Rendahnya gaji guru, kesejahteraan, dan fasilitas pendidikan yang tidak memadai. Tidak saja biaya oprasional pendidikan yang tidak ada.akan tetapi, berbicara kesejahteraan pendidik, dan fasilitas pendukung proses pendidikan itu sangat kurang.Ini membuktikan perhatian pemerintah pada dunia pendidikan sangat jauh dari pandangan keprioritasan pembangunan bangsa. Maka pendidikan yang seharusnya menjadi wahana pembebasan manusia (manusia kritis dan aktif) ternyata menjadi pasif dan tumpul. Salah satu penyebab krisis ini adalah pendidikan yang masih memakai metode bank. Metode yang melihat manusia sebagai gelas kosong yang siap untuk diisi serta tidak mampu mengembangkan rasa keingintahuan siswa akan kebenaran ilmu pengetahuan serta teori ataupun bagaimana metode ilmiah bisa menjadi seperti apa yang kital ihat hari ini.Peran negara disatu sisi untuk memberikan partisipatif masyarakat akan mendapatkan akses terhadap pendidikan pengajaran (pasal 31 ayat 1 UUD’45) sedikit demi sedikit mulai dikurangi salah satu caranya dengan mengurangi anggaran pendidikan saat rakyat dalam krisis yang berakhir pada pencabutan subsidi pendidikan dan agenda liberalisasi dan privatisasi pendidikan (Sisdiknas).Pengurangan peran pembiayaan disatu sisi kemudian disisi yang lain melakukan ideologisasi dengan memasukkan slogan-slogan dan jargon-jargon kekuasaan dan militerisasi serta sentralisasi pendidikan dengan (P-4 ala New Orba). Pelepasan peran negara pada pendanaan disatu pihak dan pengutan dipihak birokratisasi dan ideologisasinya memperlihatkan bagaimana watak dominan negara sesungguhnya yang otoriter dan dogmatis serta berpihak pada imperialis dunia. Menjadi gambaran pendidikan kemudian manakala rakyat dipaksa membayar pendidikan yang mahal,fasilitas pendidikan yang sangat memprihatinkan dengan melihat kondisi fasilitas sekolah terpencil dan pedesaan hanya mereka yang kaya dan banyak duitlah yang bisa leluasa menikmati pendidikan, rakyat kecil semakin termarginalkan(terpinggirkan), tersingkirkan. Bagaimana nasib orang miskin, buruh, kaum miskin kota petani desa miskin yang nota benenya 80% pendududk Indonesia didesa bagaimana kemudian nasib ribuan buruh di PHK tanpa pesangon dan pengangguran yang membludak siapa yang akan membela hak mereka. **Jangan biarkan pembodohan di negeri ini terus berlangsung. Bangun kekuatan rakyat untuk berlawan. Diam Tertindas atau bangkit melawan, sebab mundur adalah penghianatan. “Apa guna punya Ilmu tinggi kalau kita bisa membodohi mereka Apa guna banyak Baca buku kalau mulut kita bungkam melulu (Rowo Mangun)”. “Para filsuf hanya menginterprestasikan dunia tapi persoalannya bagaimana merubahnya”. “Sejarah adalah proses menjadi, maka setiap orang harus menciptakan dan menentukan sejarahnya sendiri tanpa melupakan dunia tempat ia menyejarahkan yaitu manusia keseluruhan. Maka Sejarah adalah bagaimana meninggikan derajat manusia-manusia yang kini tertindas dan terhisap. Berjuang bersama rakyat rebut Demokrai Sejati”.

Kamis, 10 November 2011

Newmont harus Memberi Manfaat!

Oleh ILHAM HANDIKA Sumbawa selatan harus belajar banyak dari Sumbawa barat bagaimana menyikapi keberadaan PT NNT sehingga kelak tidak menjadi penonton di rumah sendiri. Keberadaan Newmont sudah tidak dapat dielakkan lagi di Sumbawa selatan. Proses sosialisasi pun telah dilaksanakan di berbagai kecamatan di wilayah Sumbawa selatan. Wilayah Sumbawa selatan takkan lama lagi akan mirip seperti wilayah Sumbawa barat saat ini. Wilayah-wilayah yang dahulunya terisolir takkan lama lagi akan menjadi pusat hiruk pikuk kegiatan PT NNT. Penduduk setempat harus bersiap-siap menerima pengaruh social karena dapat dipastikan para pekerja Newmont tidak hanya berasal dari wilayah Sumbawa saja namun ada yang berasal dari Lombok bahkan jawa. Newmont merupakan salah satu perusahaan tambang asing yang beroperasi di Indonesia dan memiliki kontrak karya sejak tahun 1986. Selain di Sumbawa, perusahaan ini juga pernah beroperasi di pulau Sulawesi tepatnya di Minahasa dengan nama perusahaannya adalah PT Newmont minahasa raya. Namun perusahaan ini sudah tidak beroperasi lagi dan sempat heboh dengan kasus pencemaran di Teluk Buyat. Keberadaan Newmont di Sumbawa selatan ibarat dua keeping mata uang logam yang saling bertolak belakang. Di satu sisi keberadaannya dikhawatirkan akan merusak lingkungan disekitar Sumbawa selatan terutama untuk posisi mata airnya karena wilayah-wilayah selatan seperti Lunyuk dan Lenangguaar mata airnya berada di tempat yang menjadi daerah ekploitasi Newmont. Walaupun sudah ada AMDAL jangan sampai kelak kita akan mewariskan lingkungan yang rusak bagi anak cucu kita. Di sisi yang lain keberadan Newmont juga akan memberi manfaat takkala ketika kita berbicara masalah ekonomi dan tenaga kerja. Kita tidak dapat memungkiri keberadaan suatu perusahaan tambang pasti akan membawa pengaruh baik positif maupun negative bagi daerah lingkar tambang. Karena kontrak karya sudah di tanda tangani dan kedua belah pihak pemerintah dan Newmont harus menghormati isi dari kontrak tersebut maka tidak akan lama lagi kita sebagai penduduk wilayah selatan akan melihat sepak terjang Newmont di daerah kita. Pada kesempatan ini penulis mengingatkan kepada pihak-pihak terkait jangan sampai penduduk Sumbawa selatan hanya menjadi penonton dan tidak bisa mengambil bagian dalam proses produksi PT Newmont. Berkaitan dengan hal tersebut, ketika berbicara dampak ekonomi maka Newmont harus memanfaatkan produk-produk lokal untuk memenuhi kebutuhannya. Misalnya untuk kebutuhan buah-buahan seperti kelapa maka dapat di ambil di daerah sekitar wilayah tambang yang merupakan penghasil kelapa di Sumbawa. Kedua masalah pengadaan daging, hal ini dapat disiasati dengan kerjasama antara pemerintah daerah dengan Newmont membentuk kelompok masyarakat yang beternak ayam sehingga Newmont tidak perlu mengambil daging dari luar daerah tambang untuk kebutuhan karyawannya. Dampaknya dapat di lihat penduduk setempat bias menjadi peternak ayam. Jangan sampai terjadi seperti di Sumbawa barat, Newmont mengambil bahan-bahan kebutuhan operasionalnya dari luar sehingga penduduk setempat tidak memperoleh apa-apa. Wilayah Sumbawa selatan merupakan wilayah produktif untuk pertanian dan peternakan jadi tidak ada alasan bagi Newmont untuk mengambil kebutuhannya dari luar Sumbawa. Hal ini akan berdampak dari perputaraan ekonomi daerah Sumbawa selatan. Sesuai teori ekonomi jika banyak uang beredar/perekonomian meningkat maka akan banyak lapangan perkerjaan yang tersedia. Kaitan yang kedua adalah perekrutan tenaga kerja. Penulis menyadari penduduk di wilayah Sumbawa selatan masih tertinggal jika berbicara masalah pendidikan. Banyak pemuda-pemuda yang tidak bias melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Hal ini bias dimengerti karena infrastruktur pendidikan di wilayah Sumbawa selatan masih sangat mengkhawatirkan dan kondisi ekonomi dari keluarga jika akan melanjutkan pendidikan. Newmont tidak dapat menjadikan ini alasan untuk tidak merekrut tenaga kerja local dari sekitar wilayah tambang. Pemuda-pemuda tersebut merupakan tumpuan ekonomi keluarga. Kelak jika berhasil bekerja di Newmont maka diharapkan perekonomian keluarga akan terangkat. Perekrutan tenaga kerja harus menjadi perhatian semua pihak, jangan sampai ada kecemburuan dimana tenaga kerja dari luar dengan mudah masuk menjadi tenaga kerja di Newmont sementara pemuda local tidak mendapat pekerjaan apa-apa. Masih ada 4-5 tahun lagi untuk proses ekploitasi maka dari itu pemerintah dengan Newmont dapat membentuk balai latihan kerja untuk meningkatkan kterampilan pemuda agar sesuai dengan standar yang di tetapkan Newmont. Tidak perlu pendidikan tinggi yang penting memiliki ketrampilan sehingga dapat bekerja di lapangan. Peran pelajar dan Mahasiswa Pemuda Sumbawa selatan yang memiliki kesempatan untuk melanjutkan studi baik di mataram, Yogyakarta maupun kota-kota besar lainnya di harapkan dapat menjadi pemantau dan pengawas dari setiap kebijakan baik yang di ambil oleh Newmont maupun pemerintah daerah. Pelajar dan mahasiswa telah memiliki kemampuan analisis yang baik sehingga dapat menentukan apakah keberadaan Newmont di Sumbawa selatan dapat memberikan dampak yang baik terhadap masyarakat di wilayah tambang. Pelajar dan mahasiswa harus memainkan peran yang lebih besar lagi bagi arah pembangunan Sumbawa, tidak hanya berkutat dengan tradisi keilmuan di kampus namun harus turun ke lapangan untuk merasakan penderitaan rakyat. Sekali lagi keberadaan Newmont di Sumbawa selatan harus memberi manfaat bagi rakyat di sekitar wilayah tambang. Dan ini harus menjadi perhatian kita sebagai pemuda, pelajar dan mahasiswa Sumbawa selatan. Ilham Handika Ketua Persatuan Pemuda Mahasiswa Sumbawa Selatan (PERMASUS) Yogyakarta

Seberapa besar dan strategis posisi ISLAM dalam politik internasional?

Dalam artikel ini perlu dipahami terlebih dahulu bahwa islam bukan saja sebagai agama namun juga “way of life” artinya pedoman hidup. Islam tidak hanya mengatur tentang tata cara beribadah kepada Tuhan namun Islam merupakan suatu ajaran yang utuh, artinya setiap sendi kehidupan pemeluknya sudah di atur. Pedoman hidup bagi umat Islam seperti yang di bawa oleh Nabi Muhammad SAW adalah Al-Quran dan Hadist. Jadi islam mengatur setiap sendi kehidupan pemeluknya mulai dari tata cara beribadah, hubungan dengan sesama, atau yang biasa disebut syariah, muamalah dan aqidah. Bahkan sampai kehidupan politik sudah di atur dalam islam. Sebelum berbicara lebih jauh tentang posisi islam marilah kita sedikit menengok tentang sejarah agama ini (islam,red). Islam merupakan agama samawi yang artinya agama yang berasal dari langit atau sumber ajaranya dari Tuhan melalui perantara nabi dan rasul. Termasuk dalam agama samawi yaitu kristen dan yahudi. Seperti yang diketahui, agama islam mulai berkembang di kawasan timur tengah atau tepatnya di jazirah Arab. Nabi Muhammad SAW merupakan sosok utama dalam penyebaran agama ini. Nabi Muhammad SAW merupakan panutan dan paling berpengaruh bagi umat islam, bahkan seorang penulis barat, Michael Hart menempatkan nabi Muhammad SAW sebagai orang nomor satu paling berpengaruh sepanjang masa. Sampai saat ini, dari 7 miliar penduduk bumi , 1,6 miliar adalah umat islam. Jumlah yang sangat besar dan menempati urutan kedua setelah kristen. Jumlah ini akan semakin terus bertambah mengingat wanita muslim yang berusia subur masih sangat banyak. Berdasarkan jumlah ini, posisi umat muslim sangatlah penting dan patut untuk diperhitung dalam kehidupan masyarakat internasional. Masalahnya adalah dalam umat islam sendiri masih terjadi perpecahan, antara syiah dan sunni. Dua golongan dalam islam sangat sulit untuk dipersatukan. Masalah lainnya adalah kebodohan, kemiskinan dan kekerasan yang merupakan lingkaran setan bagi umat muslim seluruh dunia. Kenyataan pahit tentunya, walaupun dengan jumlah yang sangat besar umat islam belum mampu mengangkat posisinya dalam percaturan politik internasional. Bisa dikatakan kuantitas yang bagus namuan kualitas yang memprihatinkan. Barat tentu menyadari hal ini. Potensi umat islam yang sangat besar jika dipersatukan akan menyebabkan hilangnya hegemoni barat. Barat dalam hal ini Amerika, eropa dan sekutunya tentu tidak senang dengan kebangkitan umat islam. Lalu mereka mencari cara dengan mengkampanyekan perang terhadap terorisme. Pandangn barat sudah pasti bahwa teroris adalah islam sedangkan islam sebaliknya menganggapa barat adalah teroris yang sebenarnya. Kecurigaan satu sama lain tidak bisa dihindarkan. Hal inilah yang oleh sebagian ahli disebut sebagai a vicious circle exists, maksudnya bahwa terjadi suatu lingkaran kejahatan yang tidak terselesaikan. Rakyat merasa didholimi oleh kebijakan pemerintah sehingga melakukan perlawanan dengan berbagai demonstrasi atau tindakan yang menghina pemerintah. Akibatnya negara melakukan tindakan refresif yang mengundang perlawanan dari rakyat dalam bentuk tindakan terorisme. Banyak sekali kejadian 10 tahun terakhir yang menyebabkan Islam dan barat sulit untuk bersama diantaranya perak irak, afghanistan, sudan, somalia,dll. Semuanya menelan korban yang sangat banyak dari pihak umat islam. Umat islam sudah saatnya bangkit dari keterpurukan. Sejarah sudah membuktikan bahwa islam pernah mencapai masa-masa kejayaan ketika tahun 1000 sampai 1200 M. Posisi islam saat ini sudah menemukan momentumnya. Dengan ditandai dengana adanya “Arab Spring” dimana rezim pemerintahan otoriter yang di sokong barat sudah mulai jatuh mulai dari Tunisia, Mesir, Libya, hingga saat ini yang masih bergejolak adalah Yaman dan Suriah. Umat islam mesti menyadari posisinya yang strategis dalam kancah politik internasional. Contoh negara islam yang mulai memainakn peran adalah Turki. Bahwa kendala selama ini Islam tidak bisa bersanding dengan nasionalisme sudah bisa dihilangkan. Umat islam harus mencontoh bangsa iran yang tidak ingin di dikte oleh amerika. Momentum kebangkitan umat islam juga ditandai dengan krisis global yang melanda AS dan eropa. Disaat negara-negara eropa sedang mengalami kemunduran, umat Islam yang diwakli oleh negara-negara timur tengah dan khususnya Indonesia harus mampu bangkit.