Mengutip pendapat Mochtar Buchori, seorang begawan pendidikan Indonesia menyatakan bahwa
permasalahan pendidikan di Indonesia dapat dilihat dari dua arah yaitu pada
sisi hulu dan sisi hilirnya. Dari sisi hulu berkaitan dengan filsafat, konsep,
dan dasar pendidikan yang digunakan dalam system pendidikan di Indonesia
sedangkan sisi hilirnya berkaitan dengan praktik-praktik pembelajaran yang
dilaksanakan disekolah dan bagaimana penyiapan guru sebagai ujung tombak
peningkatan kualitas pendidikan. Dari keterangan ini, saya akan coba
menjelaskan beberapa permasalahan mendasar pendidikan di Indonesia saat ini.
Permasalahan pertama yaitu pada tingkat hulunya yaitu belum adanya kesepakatan
atau consensus dalam diri bangsa Indonesia mengenai dasar dari pendidikan
nasional kita. Meskipun kita memiliki filsafat pendidikan Pancasila namun hal
ini seolah menjadi “lip service” semata. Tidak diwujudkan dalam kehidupan
sehari-hari. Sampai saat ini kita masih cenderung “meminjam” konsep dan
filosofi pendidikan dari “luar”. Seperti kita ketahui , Indonesia memiliki
tokoh-tokoh pendidikan yang tidak diragukan lagi perjuangan, kemampuan dan
kredibilitasnya seperti Ki Hadjar Dewantara, Muhammad Syafei, Driyarkara, KH.
Ahmad Dahlan, dll. Kalau kita memiliki tokoh-tokoh di atas dengan
pemikiran-pemikirannya yang cemerlang lalu mengapa kita masih “meminjam” konsep
dan pemikiran “orang luar”? sepertinya ada rasa kurang percaya diri dalam diri
bangsa Indonesia terhadap nilai-nilai dan filosofi pendidikan yang dimilikinya.
Begitu banyak hasil penelitian baik tesis maupun disertasi yang membahas
kiprah, perjuangan dan pemikiran tokoh-tokkoh pendidikan kita diatas dengan
kesimpulan yang mengatakan bahwa pemikiran tokoh-tokoh tersebut sangat pas dan
relevan digunakan dan diterapkan dalam situasi dan kondisi pendidikan Indonesia
yang masih jauh tertinggal dengan bangsa lainnya. Kita harus kembali ke
nilai-nilai dan filosofi yang menjadi karakter dan ciri khas bangsa Indonesia.
Filsafat pendidikan Pancasila merupakan jawaban atas permaslahan yang telah
saya sampaikan diatas. Filsafat Pancasila dipadukan dengan pemikiran
tokoh-tokoh diatas akan menjadi suatu kekuatan yang mampu menjawab permasalahan
dan tantangan pendidikan Indonesia ke depan.
Permasalahan krusial selanjutnya dalam
pendidikan di Indonesia adalah rendahnya kualitas guru. Sebagaimana yang
diketahui, guru merupakan ujung tombak dalam upaya meningkatkan kualitas
pendidikan Indonesia. Sehebat apapun kurikulum maupun sarana dan prasarana yang
dipersiapkan namun jika kualitas guru masih mengkhawatrikan maka usaha tersebut
akan sia-sia. Fokus pada kualitas guru merupakan suatu keniscayaan dalam usaha
meningkatkan kualitas pendidikan. Tilaar (2015: 137) mengemukakan empat upaya
strategis dalam meningkatkan kualitas guru: 1) Profesi
guru sebagai profesi yang professional, 2) Reformasi
LPTK, 3) Pembenahan
jalur karier guru, dan 4) Jaminan
sosial gaji guru yang menjanjikan.
Keempat usaha tersebut seperti masih
jauh dari harapan. Profesi guru masih dianggap profesi terbuka oleh sebagian
masyarakat sehingga menjadi guru adalah pilihan terakhir. Begitupun juga dengan
jaminan sosial guru. Masih banyak guru terutama guru honorer yang memiliki
penghasilan jauh dibawah UMR. Semua permasalahan diatas semakin menambah runyam
permasalahan peningkatan kualitas pendidikan Indonesia.
Langkah solutif untuk
meningkatkan kualitas guru adalah membenahi permasalahan yang terjadi pada
“pabrik”nya guru yaitu reformasi LPTK. LPTK harus bertransformasi menjadi
lembaga modern dan professional sehingga menghasilkan guru-guru yang memiliki
kualitas terbaik. Selanjutnya pembenahan jenjang karir guru menjadi upaya
terkahir agar profesi guru menjadi pilihan utama masyarakata karena sudah
memiliki masa depan yang jelas.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar