Senin, 02 Desember 2019

Masalah Pendidikan Hari ini


Mengutip pendapat Mochtar Buchori, seorang begawan pendidikan Indonesia menyatakan bahwa permasalahan pendidikan di Indonesia dapat dilihat dari dua arah yaitu pada sisi hulu dan sisi hilirnya. Dari sisi hulu berkaitan dengan filsafat, konsep, dan dasar pendidikan yang digunakan dalam system pendidikan di Indonesia sedangkan sisi hilirnya berkaitan dengan praktik-praktik pembelajaran yang dilaksanakan disekolah dan bagaimana penyiapan guru sebagai ujung tombak peningkatan kualitas pendidikan. Dari keterangan ini, saya akan coba menjelaskan beberapa permasalahan mendasar pendidikan di Indonesia saat ini. Permasalahan pertama yaitu pada tingkat hulunya yaitu belum adanya kesepakatan atau consensus dalam diri bangsa Indonesia mengenai dasar dari pendidikan nasional kita. Meskipun kita memiliki filsafat pendidikan Pancasila namun hal ini seolah menjadi “lip service” semata. Tidak diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Sampai saat ini kita masih cenderung “meminjam” konsep dan filosofi pendidikan dari “luar”. Seperti kita ketahui , Indonesia memiliki tokoh-tokoh pendidikan yang tidak diragukan lagi perjuangan, kemampuan dan kredibilitasnya seperti Ki Hadjar Dewantara, Muhammad Syafei, Driyarkara, KH. Ahmad Dahlan, dll. Kalau kita memiliki tokoh-tokoh di atas dengan pemikiran-pemikirannya yang cemerlang lalu mengapa kita masih “meminjam” konsep dan pemikiran “orang luar”? sepertinya ada rasa kurang percaya diri dalam diri bangsa Indonesia terhadap nilai-nilai dan filosofi pendidikan yang dimilikinya. Begitu banyak hasil penelitian baik tesis maupun disertasi yang membahas kiprah, perjuangan dan pemikiran tokoh-tokkoh pendidikan kita diatas dengan kesimpulan yang mengatakan bahwa pemikiran tokoh-tokoh tersebut sangat pas dan relevan digunakan dan diterapkan dalam situasi dan kondisi pendidikan Indonesia yang masih jauh tertinggal dengan bangsa lainnya. Kita harus kembali ke nilai-nilai dan filosofi yang menjadi karakter dan ciri khas bangsa Indonesia. Filsafat pendidikan Pancasila merupakan jawaban atas permaslahan yang telah saya sampaikan diatas. Filsafat Pancasila dipadukan dengan pemikiran tokoh-tokoh diatas akan menjadi suatu kekuatan yang mampu menjawab permasalahan dan tantangan pendidikan Indonesia ke depan.
Permasalahan krusial selanjutnya dalam pendidikan di Indonesia adalah rendahnya kualitas guru. Sebagaimana yang diketahui, guru merupakan ujung tombak dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia. Sehebat apapun kurikulum maupun sarana dan prasarana yang dipersiapkan namun jika kualitas guru masih mengkhawatrikan maka usaha tersebut akan sia-sia. Fokus pada kualitas guru merupakan suatu keniscayaan dalam usaha meningkatkan kualitas pendidikan. Tilaar (2015: 137) mengemukakan empat upaya strategis dalam meningkatkan kualitas guru: 1) Profesi guru sebagai profesi yang professional, 2) Reformasi LPTK, 3) Pembenahan jalur karier guru, dan 4) Jaminan sosial gaji guru yang menjanjikan.
Keempat usaha tersebut seperti masih jauh dari harapan. Profesi guru masih dianggap profesi terbuka oleh sebagian masyarakat sehingga menjadi guru adalah pilihan terakhir. Begitupun juga dengan jaminan sosial guru. Masih banyak guru terutama guru honorer yang memiliki penghasilan jauh dibawah UMR. Semua permasalahan diatas semakin menambah runyam permasalahan peningkatan kualitas pendidikan Indonesia.
Langkah solutif untuk meningkatkan kualitas guru adalah membenahi permasalahan yang terjadi pada “pabrik”nya guru yaitu reformasi LPTK. LPTK harus bertransformasi menjadi lembaga modern dan professional sehingga menghasilkan guru-guru yang memiliki kualitas terbaik. Selanjutnya pembenahan jenjang karir guru menjadi upaya terkahir agar profesi guru menjadi pilihan utama masyarakata karena sudah memiliki masa depan yang jelas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar